2 Mei
Posted by Enggar on 1st May and posted in Pendidikan
ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan (Ki Hadjar Dewantara).
Guru, adalah sosok yang diharapkan dapat menjadi panutan bagi anak didik. Itu tentu. Maka ketika ada suatu kondisi dimana seorang guru melakukan penyimpangan, yang tercoreng namanya adalah semua guru dan institusi yang terkait di dalamnya. (walaupun semua generalisasi itu pasti salah, hm, saya setuju kalimat ini
. Saya tidak menampik kenyataan bahwa dalam praktiknya masih banyak ditemui guru-guru yang mengajar dan mendidik dengan cara-cara yang feodal. Dan bukan perkara mudah untuk mengubah kultur yang sudah turun temurun dan mendarah daging. Untuk mengubah kebiasaan tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Tentu akan banyak ditemui hambatan. Tidak saja dari komunitas guru itu sendiri tapi juga anak didik.
Semoga semua rintangan yang ada dapat kita lalui bersama. Guru, teruslah belajar, berubah setiap waktu menuju ke arah yang lebih baik. Selamat hari pendidikan nasional.
ps: Buat murid-murid saya yang akan mengikuti UAN hari senin, selamat belajar, jangan lupa berdoa. Semoga semuanya berjalan lancar.









Hari Pendidikan Nasional….kenapa ya kalau Hardiknas, selalu guru sekolah saja yang disebut. Bukankah orangtua juga guru untuk anaknya, boss adalah guru untuk anak buahnya, jendral adalah guru untuk prajuritnya, kakak adalah guru untuk adik-adiknya, presiden adalah guru untuk menterinya, gubernur adalah guru untuk bupati, anggota DPR adalah guru untuk rakyatnya…dst..dst. Jadi…jangan selalu salahkan “guru sekolah” saja. Bagaimana anaknya mau baik kalau orangtuanya tidak bertingkah baik, bagaimana anak buah berkinerja bagus kalau bossnya tidak dapat menjadi guru yang patut dicontoh, bagaimana rakyat mau tertib hukum kalau anggota DPR malah memberi contoh merusak hukum? Anyway…selamat Hardiknas buat yang merasa merayakan.