Suatu ketika seorang ibu mengantri di kasir sebuah toko kue. Seperti biasa si mbak kasir melakukan suatu prosedur pengecekan uang. Si ibu langsung tersengat dan keluarlah kalimat “…………….. saya orang berpendidikan. ………….. Saya nggak mau cari masalah sama orang nggak berpendidikan.”

Interpretasi yang muncul dari kalimat di atas jadi seperti ini: si ibu menempatkan dirinya sebagai kaum educated dan si mbak kasir sebagai kaum yang uneducated. Si ibu merasa educated karena dia memaknai frasa itu sebagai orang yang bersekolah tinggi dan si mbak kasir pastilah memiliki pendidikan lebih rendah.

Tipikal keangkuhan orang yang merasa pintar adalah karena dia berpendidikan secara akademis jauh lebih tingggi, tapi justru tanpa sadar memunculkan betapa uneducated-nya dia.

Jadi, malam kemarin saya ngobrol-ngobrol ringan dengan partner, topiknya ya tentang itu tadi. Dan inilah hasilnya. Orang yang uneducated itu bukan dalam arti tidak bersekolah tinggi, tapi dalam arti tidak menghargai ilmu.

Itulah kenapa tugas utama guru adalah mendidik selain mengajar. Mengajar lebih kepada mentransfer ilmu pengetahuan. Mengajarkan dari tidak bisa menjadi bisa. Tapi mendidik mempunyai arti yang lebih luas. Mendidik agar siswa mempunyai sikap dan perilaku yang baik, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Termasuk di dalamnya menanamkan nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran. Jadi ingat ketika dahulu kala seorang ibu ‘manajer’ mengatakan ini kepadaku “kamu itu kan cuma trainer.” hehehe, tak apalah. Saya bangga kok sebagai guru :).

Cukup sampai sini bahasannya kalau kepanjangan jadi tidak sesuai judul lagi :). Diteruskan ke tema mengajar dan mendidik saja ya?

Dian, benar nggak ya pemahaman aku di atas? ;-). Ibu ini dosen bahasa, so kita tanya dia saja ya :)