Makna Kata
Pendidikan April 19th, 2008Suatu ketika seorang ibu mengantri di kasir sebuah toko kue. Seperti biasa si mbak kasir melakukan suatu prosedur pengecekan uang. Si ibu langsung tersengat dan keluarlah kalimat “…………….. saya orang berpendidikan. ………….. Saya nggak mau cari masalah sama orang nggak berpendidikan.”
Interpretasi yang muncul dari kalimat di atas jadi seperti ini: si ibu menempatkan dirinya sebagai kaum educated dan si mbak kasir sebagai kaum yang uneducated. Si ibu merasa educated karena dia memaknai frasa itu sebagai orang yang bersekolah tinggi dan si mbak kasir pastilah memiliki pendidikan lebih rendah.
Tipikal keangkuhan orang yang merasa pintar adalah karena dia berpendidikan secara akademis jauh lebih tingggi, tapi justru tanpa sadar memunculkan betapa uneducated-nya dia.
Jadi, malam kemarin saya ngobrol-ngobrol ringan dengan partner, topiknya ya tentang itu tadi. Dan inilah hasilnya. Orang yang uneducated itu bukan dalam arti tidak bersekolah tinggi, tapi dalam arti tidak menghargai ilmu.
Itulah kenapa tugas utama guru adalah mendidik selain mengajar. Mengajar lebih kepada mentransfer ilmu pengetahuan. Mengajarkan dari tidak bisa menjadi bisa. Tapi mendidik mempunyai arti yang lebih luas. Mendidik agar siswa mempunyai sikap dan perilaku yang baik, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Termasuk di dalamnya menanamkan nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran. Jadi ingat ketika dahulu kala seorang ibu ‘manajer’ mengatakan ini kepadaku “kamu itu kan cuma trainer.” hehehe, tak apalah. Saya bangga kok sebagai guru :).
Cukup sampai sini bahasannya kalau kepanjangan jadi tidak sesuai judul lagi :). Diteruskan ke tema mengajar dan mendidik saja ya?
Dian, benar nggak ya pemahaman aku di atas? ;-). Ibu ini dosen bahasa, so kita tanya dia saja ya ![]()


April 19th, 2008 at 4:13 pm
waah..nama aku disebut…:) sudah dikoreksi nih, mbak? sudah terlihat ;)tapi masih ada yang kurang sedikit di kalimat ini: “karena dia secara akademis jauh lebih tinggi” dan “Mengajar lebih kepada mentransfer ilmu pengetahuan”, sepertinya masih kurang predikatnya. Tentang yang tadi diobrolkan di Sbux insha Allah kutulis di blog, tapi sekarang mau tidur dulu ah, ngantuukk
(hehe, ngeles ya…)
April 20th, 2008 at 3:47 am
Dikoreksi dikit trus aku nggak kuat menahan kantuk jadi ya bobo :). Capek juga ternyata, tapi obrolan spk itu jadi terngat-ingat :). Thks ya.
April 20th, 2008 at 7:23 am
Hai Ibu Guru, aaaah sangat keguruan sekali artikelnya ;;) agak mirip dengan baca blog nya ibu dian juga hehehe
baiklah… saya kan masih mahasiwi… jadi mengajar yang baik ya bu biar muridnya tidak benci sama yang namanya guru dan jadi hobi menyumpahi guru *curcol* huahahaha
May 14th, 2008 at 4:41 pm
Mendidik dan mengajar. Duh susah ya pasti..
Makanya angkat topi deh sama para pendidik dan pengajar
October 15th, 2008 at 4:14 pm
[…] Hampir semua sinetron itu isi ceritanya sama, (tidak hanya para artis nya yang itu-itu saja). Pasti ada orang kaya, orang miskin yang teraniaya, dan seterusnya. Atau cerita seorang profesional muda, lulusan luar (tentu dengan kualitas pendidikan nomor satu).Tapi coba lihat, sikap dan tindak tanduknya tidak sekalipun mencerminkan sebagai orang yang berpendidikan. Oya, saya pernah membahas tentang definisi orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan di sini. […]