If i were you..
Pendidikan April 10th, 2008Kembali ke tujuan semula blog ini dibuat :). Segudang teori pengajaran mudah ditemui. Semudah itukah praktiknya? Setiap sekolah mempunyai rule yang berbeda. Peraturan itu pun bergantung pada banyak kondisi. Kultur, latar belakang sosial, dan lain-lain. Sebelum memberi penilaian yang salah, adakalanya diperlukan kepekaan untuk melihat dan merasakan. Itu saya pelajari ketika mulai bergabung dan mengajar untuk sebuah sekolah terbuka di Bandung.
Mengajar di sekolah dengan siswa yang heterogen ternyata membutuhkan kiat tersendiri. Kata lain dari lieur :). Tidak sekedar kemampuan tapi terutama latar sosial. Yang terakhir inilah yang sebenarnya sedikit menyulitkan. Terutama anak-anak dari lingkungan minoritas. Nilai yang mereka adopsi dari lingkungan sekitarnya sudah lekat. Perilaku dan bahasa yang digunakan mungkin saja akan membuat kita terkaget-kaget. Nah, kalau salah satu rekan bilang ‘Susah, Bu…….”. Hmm.
Lantas, apa yang harus saya lakukan? Membiarkan saja? Ah, seharusnya tidak. Tapi, apa donk?


April 10th, 2008 at 2:53 pm
terus mendampingi … sampai mereka temukan jalan sendiri
April 10th, 2008 at 4:35 pm
keberagaman memang masalah tapi juga berkah, sabar dan berusaha, semoga segera diperoleh solusinya…
April 11th, 2008 at 1:10 am
Sebagai guru mungkin ya harus sabar menghadapi anak didiknya bagaimanapun kondisinya.
April 11th, 2008 at 4:34 pm
All:
Thanks friend for reminds me, always..
April 12th, 2008 at 12:58 am
Waktu kecil saya sering diingatkan oleh ortu saya, bahwa “guru = diGugu ditiRU”, yang kalau dalam bahasa Indonesia mungkin dapat diterjemahkan sebagai DIPATUHI DAN DICONTOH. Kayaknya sih ini ajaran ki hajar dewantara ya? Saya tidak tahu pasti. Yang ingin saya tekankan, dalam ungkapan tersebut…dipatuhi lebih mengarah kepada bentuk penghormatan siswa terhadap guru, sedangkan… dicontoh lebih mengarah pada guru sebagai acuan siswa untuk bertindak. Jadi Bu, yang penting adalah bagaimana membuat siswa patuh kepada guru dan guru menjadi suatu model yang patut dicontoh siswa. Bagaimana supaya siswa patuh…ya buat siswa merasa senang dengan guru (kadang-kadang saya sampai pada kesimpulan mendasar bahwa tugas seorang guru sebenarnya hanyalah untuk menumbuhkan rasa senang dalam diri anak, karena dengan rasa senang tersebut anak akan mau mempelajari apa saja. Benar nggak ya? Ngapain gurunya pinter setinggi langit kalau siswanya nggak enjoy dengan apa yang disampaikan?). Bagaimana supaya ditiru…ya saya kira semua sudah tahu jawabnya, semua yang kita ucapkan ya harus sesuai dengan yang kita lakukan. Ada harmoni antara “kata” dan “laku”. Sudah banyak contohnya kan? Banyak anak seorang petinju menjadi petinju juga, anak polisi menjadi polisi, anak presiden menjadi presiden, anak guru menjadi guru, dll…semua berawal dari meniru. Saran saya Bu, enjoy aja menghadapi keberagaman…supaya Ibu bisa diGugu dan ditiRU. (Maaf ya….kepanjangan)
April 12th, 2008 at 5:18 am
Pak Joko:
Betul, Pak. Murid cenderung meniru.Sejauh ini saya berusaha bisa menjadi teman buat mereka, mudah-mudahan sih dengan cara seperti itu saya bisa sedikit demi sedikit menanamkan misi saya :).
April 13th, 2008 at 12:52 am
taxonomy bloom sudah diubah betul apa ndak ya …
April 14th, 2008 at 11:05 am
Herman:
Belum tahu juga, Pak. Tapi kalo untuk standar penilaian rasanya masih menggunakan 3 domain itu.