Jurnal
Pendidikan January 16th, 2008Semester ini kelas 9 belajar tentang Internet. Diharapkan dalam waktu 2.5 bulan materi ini dapat diselesaikan. Setelah dihitung-hitung dengan hari efektif mereka belajar kira-kira ada 10 kali pertemuan, sudah termasuk 2 kali ulangan. Wah, lieur juga. Melihat pembahasan teori yang cukup padat serta waktu yang cukup singkat dan situasi serta kondisi anak didik, rasa-rasanya bikin mules juga :).
Untuk menyiasati agar teori dan praktek dapat berjalan seiring saya menugaskan siswa untuk membuat jurnal. Jurnal itu berisi tentang catatan harian materi pelajaran komputer. Saya bebaskan siswa untuk menulis dalam bentuk narasi ataupun tutorial. Karena biasanya ketika saya menerangkan sesuatu di depan kelas, saya lebih banyak menuangkan dalam cerita dan gambar. Saya pikir tentu lebih menarik ketika membaca jurnal yang isinya beraneka ragam :).
Namun, saya juga menegaskan kepada mereka bahwa penilaian saya tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya pembuatan jurnal. Karena itu adalah sepenuhnya kepentingan untuk mereka sendiri. Saya ingin mereka belajar bertanggung jawab (secara mereka itu sudah kelas 9 lho
). Selain melatih mereka menuangkan informasi dalam bentuk tulisan, jurnal itu saya maksudkan untuk catatan mereka belajar.
Kira-kira, lagkah saya itu sudah tepatkah? Ada saran?



January 16th, 2008 at 2:41 pm
wah, salut bener nih sama bu enggar. kayaknya anak2 memang seharusnya dibiasakan untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri sehingga tahu apa yang haris dilakukan. jurnal bisa juga digunakan untuk mengetahui progress anak2 dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. selamat berkarya buat bangsa, bu. hidup guru!
January 17th, 2008 at 5:38 am
Jurnal itu bagian dari pembelajaran berbasis inkuiri bu. Jadi…you are on the right track..
January 17th, 2008 at 10:49 am
Pak Sawali:
Terima kasih masukannya, Pak. Semoga lancar kongres KSI nya.
Pak Agus:
Thanks. Request donk, Pak. Tulis tentang pembelajaran berbasis inkuiri ini.
January 21st, 2008 at 5:24 am
Bu Enggar ya? Sori salah nyebut tadi..Oiya, ni ada sepenggal kisah, sapa tau bisa jadi pencerahan..
Alkisah, disebuah hutan antah berantah, berdirilah sekolah baru bagi seluruh warga hutan. Sekolah ini memiliki fasilitas dan kurikulum lengkap, sehingga diklaim menjadi sekolah standar A+ berdasarkan maklumat dari pemerintahan Raja Hutan. Sebagai sekolah favorit, siswanya tentulah ramai. Ada si bebek, si kancil, si burung elang, sampai si tikuspun bersekolah disini.
Namun ada kegalauan dihati emak si Tikus, semenjak disekolahkan, si Tikus rajin sekali belajar hal baru. Belajar manjat pohonlah, belajar terbang, belajar menggali tanah sampai belajar berenang. Emak si Tikus gak tahan juga, dan akhirnya bertanya,
“Nak, emang disekolah harus belajar gitu segala? ” Tanya emak tikus pada anaknya.
“Iya mak. Disekolah kita diblajari semuanya mak..” Jawab si anak yang lagi belajar terbang.
“Tapi kalo gini, sampai kapanpun kamu gak akan pernah berhasil nak, nilai kamu bakal jelek terus untuk pelajaran berenang, apalagi terbang” timpal emak sedikit resah.
“Habis Kurikulum sekolah mengharuskan kita belajar ini sih mak, jadi mo gimana lagi?” balas menimpali si anak.
“Boleh saja belajar hal yang baru, tapi kamu memiliki kecerdasan hakiki (mengerat) yang harus kamu kembangkan nak..Jangan-jangan karena terlalu banyak belajar hal baru, kamu lupa bagaimana caranya mengerat. Akhirnya apa, kamu tidak memiliki kemampuan cukup karena hasilnya malah setengah semua, terbang gak bisa, mengerat yang jadi keahlianmu pun lupa…” Ungkap emak.
“Benar juga ya mak! Temenku si burung Elang pun sekarang aneh. Dia sering lupa bagaimana caranya terbang karena keasyikan belajar berenang. Keahlian utamanya malah gak berkembang…” Ujar si anak Tikus sembari berhenti dari kegiatannya.
“Ya udah, besok emak bersama orangtua murid akan menghadap komite sekolah, gimana solusinya agar siswa berkembang optimal. Apakah harus menggunakan kurikulum KTSP seperti yang emak denger dari bangsa manusia..” Kata si emak sembari menyiapkan minuman buat si anak.
“KTSP ? Apa lagi tu mak?” Tanya si anak heran.
“KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ciptaan bangsa manusia. Intinya bagaimana mengoptimalkan kecerdasan siswa yang ternyata beragam, majemuk. Meski sama namanya, manusia, tapi mereka benar-benar berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak ada lagi panggilan bodoh/goblok. Yang ada dia tidak cerdas pada bidang tertentu, tapi cerdas dibidang yang lain…” Jelas si emak.
“Wah, bisa diterapin gak ya mak di negeri hutan? Keknya KTSP bisa jadi solusi untuk mendongkrak kecerdasan hakiki tiap siswa disekolahku mak..”
“Tergantung bagaimana guru mengolah kurikulum tersebut. Lagi pula kita tunggu juga hasilnya, karena KTSP masih setengah jalan. Bangsa manusia sendiri masih kebingungan untuk menerapkannya…” si emak menjelaskan.
“Tambah berat dung beban guru ya mak? Berarti dia harus memiliki kecerdasan yang mewakili tiap individu yang berbeda…ckk…ck..ck..salut buat guru…” Terkagum-kagum si anak mendengar penjelasan emaknya.
“Makanya, buat kamu yang otaknya sedikit, jangan jadi guru. Mending kamu cari kerjaan lain. Lagi pula jadi guru gajinya kecil, tapi tuntutannya besar. Tapi anehnya, bangsa manusia tau itu, tapi mereka seolah tak mau tahu…dah gih, mandi sono…badan kamu bau..” Kata emak menutup pembicaraan.