Untuk seorang guru komputer, mengajarkan program bajakan kepada anak didik tentu merupakan sebuah dilema. Mengingat tugas guru tidak hanya sekedar mengajar tapi juga mendidik, apa yang telah saya lakukan di atas tentu saja bertolak belakang dari tujuan itu sendiri. Apalagi jelas-jelas dari salah satu bab buku paket komputer untuk sekolah dasar diterangkan hal-hal seputar HAKI.
Sulitnya lagi, saya mengajar di sekolah atas nama lembaga. Tentu saja, selama perjanjian kerjasama berlangsung sekolah berhak mendapatkan kurikulum serta staf pengajar. Dan juga metode pengajaran yang telah mereka tetapkan. Hm, pengin deh ngajar dan merasakan jadi guru beneran :), pengin bisa bereksplorasi dan tidak tergantung dari program bajakan ini.
Selain mengajar, saya juga menulis buku komputer untuk anak sekolah dasar. Saat ini saya ditugaskan untuk merevisi buku paket sekolah tersebut. Terutama dengan beralihnya kurikulum menjadi KTSP. Untuk buku TIK SD sendiri kurikulum KTSP nya tidak ada. Sebenarnya ketiadaan kurikulum baru untuk SD ini memberikan kesempatan yang besar bagi para penulis dan penerbit untuk memberikan wacana baru, yang kali-kali saja buku mereka bisa jadi trend setter untuk penerbit buku sekolah lainnya :).
Saya sendiri bersyukur mendapatkan penerbit yang sangat bisa diajak kerjasama. Namun, tentu saja saya juga tidak bisa memungkiri adanya perhitungan supply dan demand ini. Walaupun penerbit tidak secara langsung menolak (karena saya juga belum pernah mencoba untuk serta merta mengatakannya) saya juga harus memahami kondisi mereka sebagai pihak yang nantinya akan menjual. Saya mencoba mencari jalan tengah, dengan harapan secara perlahan-lahan mengurangi ketergantungan terhadap program bajakan ini. Sepenuhnya saya belum tahu apakah cara yang saya tempuh ini adalah solusi yang baik, tapi dari membaca beberapa artikel dan masukan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang ini, saya yakin bahwa pilihan ini sedikit lebih baik. Semoga.
Sama seperti Anda, saya juga tidak mendukung jika anak-anak kita yang masih bersih itu dikotori jiwanya dengan racun yang bernama pembajakan perangkat lunak.
Go Open source.
Buat mas Harry Sufehmi, kapan realisasi kurikulum open source nya? Ditunggu ya
Recent Comments